admin

Masa Transisi

In Info on Juli 14, 2009 at 10:08 am

Meski pemain di bursa mobil bekas tetap menginginkan mobil-mobil kategori fast moving tetap laris manis, umumnya dari kalangan pedagang di sektor ini menganggap kondisi saat ini masih dalam masa transisi. Artinya, memasuki awal semester 2009 ini, transaksi jual-beli diyakini belum banyak bergerak alias stagnan. Kondisi ini lantaran dipengaruhi beberapa faktor, seperti daya beli masyarakat umumnya yang masih lemah. Hal itu diamini Nurrasyid, branch manager PT Berlian Abadua Satu (Bendi 21) di Cinere, Depok. “Penjualan memang menurun sejak November 2008 sampai sekarang. Rata-rata penurunan penjualan sekitar 50%, dan berlaku hampir di seluruh level harga mobil,” ungkap Nur, sapaan pria berpostur jangkung ini. Prinsip yang dipegang pedagang mobkas pada umumnya, sebenarnya lebih mengutamakan kuantitas. Artinya tingkat penjualan lah yang lebih diutamakan.

Berdasarkan pedoman ini, mobkas dengan permintaan paling besar yang paling banyak distok oleh mereka. Sementara harga penawaran untuk tahun-tahun yang lebih tua, mulai 2007 ke bawah, tidak banyak bergerak mengikuti kenaikan banderol mobil baru. Menurut Nur, harga penawaran untuk mobkas tahun 2007 ke bawah, masih sama dengan kondisi sebelumnya di 2008. Artinya pedagang mobil bekas kini lebih berhati-hati terhadap pasar, demi memperlancar penjualan masing-masing. Meski sudah banyak lembaga leasing yang dapat dimanfaatkan calon pembeli, tetap saja faktor daya beli yang menjadi persoalan. Kalaupun ada pedagang yang menawarkan unit seken dengan banderol lebih tinggi dari harga pasaran, bisa jadi itu merupakan kiat ambil untung sesaat.

Seperti pernah diungkap Ruslan, juragan Madina Mobilindo di Jl. Margonda Raya, Depok beberapa waktu lalu. Menurut pentolan paguyuban pedagang mobil di Depok itu, pengaruh kenaikan harga mobil baru tak serta-merta berpengaruh langsung terhadap banderol mobil seken dengan tahun produksi yang sudah punya selisih 2 tahun lebih. “Itu bisa-bisanya para pedagang mobil bekas yang nakal saja. Mereka umumnya mengaitkan kenaikan harga mobil baru kepada calon pembelinya,” kata Ruslan. Selain daya beli masyarakat yang masih lemah, faktor suku bunga kredit mobkas yang masih tinggi juga sangat memengaruhi penjualan di sektor ini. Misal seorang konsumen hanya memiliki budget untuk membayar uang muka kredit sebesar Rp 20 juta. Sementara mobil incarannya yang seharga Rp 100 jutaan produksi tahun 2007, menuntut pembayaran total DP sekitar Rp 30 jutaan. Alhasil sang konsumen mengurungkan niatnya untuk membeli mobil yang diinginkan, meski bisa membeli secara kredit melalui leasing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: